Suasana jepang Saat Peralihan Musim

Suasana jepang Saat Peralihan Musim – Awal Oktober lalu bertepatan perpindahan musim semi ke musim gugur, selama 5 hari saya berkesempatan mengeksplor lokasi wisata di Saitama, Gunma dan Toyama, di mana ketiganya merupakan daerah di dataran tinggi. Ada banyak hal yang saya lalui dan nikmati, dari menyantap soba dengan kuah dingin, hingga menaklukan Gunung Tateyama di ketinggian 3.000-an meter dari permukaan laut.

Pukul 16.30 pesawat JAL (Japan Air Lines) yang saya tumpangi mendarat di Bandara NaritaJepang setelah menempuh perjalanan 8 jam dari Jakarta. Suhu waktu itu menunjukkan angka 27 o Celcius, lumayan sejuk. Dengan menumpang bus, saya menuju Heritage Hotel & Resort yang berada di Saitama, sekitar 2 jam berkendara. Sesampainya di resor, saya langsung ke restorannya untuk makan malam. Di situ sudah disiapkan aneka makanan olahan khas Jepang yang siap untuk dicicipi, mulai dari shabu-shabu, kimchi, ikan tuna, udang dan soup.

Rasa shabu-shabu di negara asalnya ternyata tak beda jauh dengan yang dijual di Indonesia, irisan daging sapi dan kuahnya sungguh menggugah selera. Sementara rasa makanan lainnya juga cukup enak untuk lidah orang Indonesia. Setelah menikmati Dessert berupa irisan buah melon, pepaya, nanas, juga salad, saya pilih ocha panas sebagai penutup makan malam. Tak ada aktivitas lagi malam itu, saya pun memilih beristirahat untuk memulihkan tenaga.

Wisata Kota Saitama
Pagi-pagi saya sudah meluncur ke Arakawa River, objek wisata di Kota Saitama yang berada di distrik Nagatoro. Arakawa River yang Jaraknya sekitar 500 meter dari stasiun Nagatoro ini menjadi primadona bagi pelancong yang datang ke Nagatoro. Sebelum tiba di Arakawa River, kami berjalan kaki melalui Iwadatami Dori Shopping Street di mana semua produk yang dijual di sini merupakan produk lokal Nagatoro, yaitu, soba dan udon mie, aneka sayuran.

Kami menyusuri sungai Arakawa menggunakan perahu wisata berkapasitas 10 orang penumpang. Perahu ini dikendalikan oleh dua orang dengan 2 bilah batang bambu panjang sebagai alatnya. Sepanjang perjalanan, selain menikmati arus liar, kami disuguhi pemandangan inding batu hitam yang tinggi dan curam seperti jurang jika kita berada di atas. Sekitar 20 menit menikmati wisata sungai, kami tiba di pengujung perjalanan dan dibawa kembali ke pusat Nagatoro dengan naik bus. Karena kontur sungai yang cenderung menurun, perahu tidak memungkinkan untuk kembali, perahu lalu diangkat menggunanakan crane dan diangkut kembali ke titik awal keberangkatan dengan truk.

Tiket wisata sungai ini dapat dibeli di depan stasiun kereta api Nagatoro seharga 1600 yen per orang dewasa, dan 800 yen untuk anak-anak. Saran kami, jika hendak menikmati keseruan dan keramaian, datanglah pada 15 Agustus. Pada tanggal tersebut diselenggarakan Funadama Festival. Anda dapat melihat parade perahu hias warna-warni yang disebut Mantosen, disertai pertunjukan kembang api spektakuler. Dari Arakawa River saya melipir ke Kuil Hodosan-jinja yang lokasinya juga tak jauh dari Stasiun Nagatoro. Ini merupakan kuil Shinto yang berada di kaki Gunung Hodo di Prefektur Saitama. Kata “ho” pada nama kuil itu bermakna harta karun, kata “do” artinya naik atau memanjat, dan “san” memiliki arti gunung. Kuil ini sudah dianggap sebagai kuil gunung pembawa keberuntungan, karenanya banyak orang yang datang berkunjung.

Konon, kuil ini menawarkan keberuntungan dan penangkal iblis, sekaligus berkat untuk menjauhkan bencana dan pencurian. Kuil ini berada dekat dari stasiun Nagatoro. Kuil yang dibangun pada era Edo ini merupakan sebuah kuil gunung yang indah, bangunannya dihiasi dengan ukiran yang artistik.

Jepang selain terkenal dengan tempat wisatanya, negara ini juga terkenal dengan pembuatan mesin mobil dan mesin industri, contohnya saja mesin genset honda dan yanmar. Masyarakat Indonesia sangat mengenal yanmar lantaran genset ini mempunyai teknologi mesin canggih dimana mampu mengeluarkan daya listrik maksimal namun menghemat bahan bakar solar.

Sangat mudah sekali menemukan lokasi jual genset yanmar surabaya ketimbang merek lainya. Hal ini disebabkan warga setempat lebih percaya pada kehebatan dan ketangguhan yang dimiliki oleh yanmar.