Risiko Debitor Valas Meningkat

Sejumlah perbankan mulai mengantisipasi meningkatnya risiko penyaluran dana berdenominasi valuta asing menyusul pelemahan nilai tukar rupiah beberapa bulan terakhir. Anjloknya rupiah yang belakangan mendekati level 15.000 per dolar Amerika Serikat telah berdampak terhadap arus kas (cashflow) debitor kredit valas. Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan perseroan kini lebih selektif memilih debitor.

Tak hanya mempertimbangkan sektor industri, tapi juga jenis mata uang yang dipinjam. “Misalnya, kredit valas (hanya) diperuntukkan bagi debitor yang cashflownya juga dalam valas atau memiliki fasilitas hedging,” kata Anggoro kepada Tempo, akhir pekan lalu. Selain itu, kata Anggoro, bank yang dikelolanya kini mendorong debitor, terutama penerima kredit valas, agar menggunakan manajemen kas dari BNI.

Dengan begitu, dampak dan risiko pelemahan kurs dapat diminimalisasi. Nilai tukar rupiah terdepresiasi hingga 9,9 persen sepanjang tahun ini. Akhir pekan lalu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat rupiah menguat tipis 7 poin setelah sehari sebelumnya mencapai level 14.891. Nilai tukar sempat berada di posisi Rp 14.927 per dolar AS pada Rabu pekan lalu— rekor terendah dalam dua dekade terakhir.

Direktur PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk Budi Satria juga mengungkapkan kekhawatiran banknya terhadap kemampuan debitor valas untuk membayar kewajiban di tengah fluktuasi kurs rupiah. “Terutama bagi nasabah pinjaman yang memperoleh income dari penjualan di dalam negeri dan memperoleh pemasukan dalam valuta rupiah,” kata dia. Sebagian bahan baku produk para debitor, kata dia, harus diimpor dari luar negeri dengan pembayaran valas. “Semakin besar porsi bahan baku yang diimpor, akan semakin berat bagi perusahaan yang bersangkutan,” kata Budi. Kendati demikian, Budi memastikan tak semua debitor terkena dampak negatif dari pelemahan kurs rupiah. Nasabah yang bahan bakunya diperoleh dari dalam negeri tapi memperoleh pendapatan hasil ekspor akan mendapat benefit.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengatakan bank yang dipimpinnya telah mengantisipasi persoalan ini sejak jauh-jauh hari. Total kredit valas BCA sejak 2001 dibatasi hanya 6 persen dari total aset. Kredit tersebut juga hanya diperuntukkan bagi eksportir. “Sehingga sejauh ini baik-baik saja,” ujarnya. Menurut Direktur BCA Santoso, kredit valas banknya saat ini kurang dari US$ 2 miliar. “Dampak tekanan ekonomi ini terasa karena bahan baku cukup banyak impor, jadi akan slow down secara ekonomi,” kata dia.“Sehingga nasabah akan menahan untuk menggunakan kredit

Pegawai bank tengah menghitung uang dolar Amerika pecahan 100 dolar