Perbankan Tertekan Mahalnya Biaya Dana

Empat kali kenaikan bertahap BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 125 basis point sejak Mei lalu mulai menekan perbankan. Biaya bunga untuk simpanan nasabah atau cost of fund perbankan meningkat setelah suku bunga acuan kini berada di level 5,5 persen. Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Anggoro Eko Cahyo mengatakan kenaikan bunga acuan paling awal berdampak pada beban bunga liabilitas. “Sedangkan di sisi aset terjadi time lag. Perbankan juga harus selektif mentransmisikan kenaikan suku bunga agar tidak menggerus kualitas aset, terutama kredit,” kata Anggoro kepada Tempo, akhir pekan lalu.

Anggoro berujar, dalam jangka menengah panjang, perbankan harus mengencangkan ikat pinggang dan mengelola neracanya dengan lebih baik. Sebab, ke depan masih akan ada banyak kebijakan yang berpusat pada stabilisasi rupiah. “Yang bisa jadi dalam perspektif mikro dapat berpengaruh signifikan terhadap suatu sektor industri, dan pada akhirnya mempengaruhi profitabilitas bank,” katanya. Risiko tersebut, menurut Anggoro, harus segera direspons dan dimitigasi. “Untuk mengurangi dampak kenaikan beban bunga, kami, misalnya, berfokus pada dana murah (CASA),” kata dia.

BNI pun kini berupaya menjaga tingkat profitabilitas bank dengan melakukan sejumlah upaya optimalisasi di luar pendapatan dan beban bunga. Selain itu, BNI mengupayakan efisiensi biaya dan menjaga kualitas aset. “Kami lebih ketat menjaga likuiditas,” kata Anggoro. Presiden Direktur Bank Mayapada Tjahjarijadi mengatakan gejolak perekonomian global yang kemudian membuat investasi portofolio keluar dari dalam negeri berpeluang membuat likuiditas domestik menjadi lebih ketat.

Dengan demikian, dia mengatakan, pengaruhnya lagilagi akan terasa pada suku bunga perbankan. Belum lagi, kemungkinan adanya kenaikan bunga acuan lanjutan masih terbuka. “Mungkin tidak ada antisipasi yang spesifik, tapi itu semua rutin dilakukan, baik oleh unit kredit maupun treasury di setiap bank,” ujarnya. Hal senada diungkapkan Direktur PT Bank Central Asia Tbk Santoso yang meyakini pelemahan kurs akan kembali mengerek bunga perbankan. “Dampak kurs tentu akan berdampak tidak langsung pada adjustment suku bunga,” ujarnya.