Kebutuhan tenaga penerbangan di Asia tertinggi di dunia.

JAKARTA — Boeing merilis hasil riset yang menyebut kebutuhan awak pesawat di Asia-Pasifik kian melambung dan berjumlah paling tinggi dibanding di kawasan lain. Dalam riset Pilot and Technician Outlook 2018-2037 yang dirilis akhir pekan lalu, Boeing menyebut maskapai penerbangan di Asia-Pasifik membutuhkan 839 ribu atau 34,4 persen dari kebutuhan dunia pada dua dekade mendatang. Kebutuhan awak pesawat di Asia-Pasifik terdiri atas 240 ribu pilot, 242 ribu teknisi pesawat, dan 317 ribu awak kabin. Jika dihitung dengan awak helikopter dan penerbangan niaga, kebutuhan pilot mencapai 261 ribu orang, awak kabin 321 ribu orang, dan teknisi 257 ribu orang. Lebih dari separuh awak pesawat dibutuhkan di Cina selaku negara pendorong pertumbuhan paling tinggi, disusul oleh negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Menurut Vice President Boeing Global Services, Keith Cooper, kebutuhan akan pilot baru di AsiaPasifik terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat dan tingginya mobilitas di kawasan ini mendorong pertumbuhan industri penerbangan, termasuk kebutuhan awak pesawat.

Selain penerbang pesawat penumpang, kebutuhan pilot yang cukup tinggi ada pada penerbangan niaga hingga kelas yang lebih luks seperti pesawat pribadi. Cooper mengatakan rekrutmen kian gencar lantaran saat ini banyak pilot dari generasi “Baby Boomer” (lahir pada 1950- 1960-an) memasuki usia pensiun. Berbeda dengan kebutuhan pilot yang naik 5 persen, permintaan akan teknisi pesawat di AsiaPasifik melorot 5 persen. Menurut riset Boeing, hal ini terjadi karena penerapan teknologi baru yang efisien dan terkomputerisasi di sejumlah pesawat, seperti Boeing 737 MAX. Teknologi baru membuat perawatan pesawat lebih efisien, sehingga waktu dan awak yang diperlukan lebih sedikit. Adapun kebutuhan awak kabin atau pramugari dan pramugara naik 3 persen. Kondisi ini terjadi lantaran maskapai menerapkan jadwal penerbangan yang beragam dan semakin padat, adanya konfigurasi baru pada kabin pesawat, hingga tuntutan regulasi mengenai jam kerja awak pesawat.

Tingginya kebutuhan awak pesawat salah satunya terjadi di Indonesia. Saat ditemui di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu, Direktur Operasional PT Garuda Indonesia (Persero), Triyanto Moeharsono, mengatakan pihaknya membutuhkan 122 pilot baru tahun ini. Menurut dia, Garuda saat ini memiliki 1.327 penerbang yang terdiri atas kapten dan kopilot. “Sedangkan frekuensi Garuda sehari sampai 630- 640 penerbangan,” katanya. Menurut Triyanto, setiap pesawat idealnya memiliki jumlah awak pesawat ideal masing-masing. Dia memberi contoh pesawat Boeing 777 memiliki rasio 10,2 dengan 10 pesawat untuk 102 pasang pilot. “Sebanyak 102 kapten dan 102 kopilot, jadi 204,” ucapnya. Adapun pesawat Airbus membutuhkan pilot dengan rasio 6,8. “Ini akan kami kejar terus. Insya Allah akhir tahun ini akan dipenuhi kebutuhannya,” tuturnya. Vice President Corporate Communication PT Citilink Indonesia, Benny Butarbutar, mengatakan maskapainya membutuhkan 50-60 pilot baru setiap tahun.

Namun kebutuhan tersebut tak terpenuhi lantaran tidak mudah mendapatkan pilot baru yang siap menerbangkan pesawat komersial. “Kami menyadari bahwa tenagatenaga yang siap pakai untuk menerbangkan pesawat sipil komersial yang cepat itu belum terpenuhi,” katadia.