Hyundai Berpeluang Raih Insentif Pajak

JAKARTA— Pemerintah membuka opsi pemberian insentif pajak kepada produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai Motor Company (HMC). Insentif ini diberikan menyusul rencana Hyundai menanamkan investasi yang cukup besar di Indonesia. “Bisa tax holiday, tapi sebenarnya itu berlaku untuk semua, tidak eksklusif satu perusahaan saja,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Gedung Kementerian Koordinator Perekonomian, kemarin. Menurut Airlangga, ada beberapa hal memang yang dibicarakan berkaitan dengan investasi Hyundai. Salah satunya soal tingkat kandungan dalam negeri (TKDN). Dia mengatakan perusahaan komponen otomotif dalam negeri hanya ingin aturan TKDN dan Standar Nasional Indonesia diperketat serta dipatuhi oleh produsen asing yang membuka pabrik di Indonesia. “Ini juga demi mengurangi nilai impor,” ujarnya. Namun, kata Airlangga, belum ada kesepakatan insentif maupun skema investasi yang disetujui oleh pemerintah. Dia mengatakan hal tersebut masih dibahas oleh kementerian terkait.

“Belum ada hal yang diputuskan,” ujarnya. Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution meminta manajemen Hyundai menyiapkan rencana investasi di Indonesia. “Kami lihatnya persiapan dari sana hampir tidak ada.” Rencana investasi Hyundai juga akan dibahas dalam kunjungan Presiden Joko Widodo ke Korea Selatan, pekan depan. Rencana investasi Hyundai ke Indonesia mengemuka sejak tahun lalu, tepatnya dalam pameran Gaikindo Indonesia International Auto Show 2017. Manajemen Hyundai mengungkapkan rencana pembangunan pabrik kendaraan komersial, seperti truk dan pikap, di Indonesia. Mereka akan menggandeng mitra, PT Hyundai Oto Komersial Indonesia, untuk mendirikan pabrik berkapasitas 1.000 unit per tahun. Pabrik ini menjadi fasilitas produksi ketiga Hyundai di luar negeri setelah di Sichuan, Cina, dan Turki. Januari lalu, Wakil Komisaris Hyundai, Chung Eui-sun, mengatakan rencana pembangunan pabrik di Asia Tenggara menjadi bagian dari strategi pengalihan sebagian basis produksi mereka di Cina. Hyundai membidik Indonesia dan Vietnam sebagai lokasi basis produksi baru di Asia Tenggara. Opsi membangun pabrik di Asia Tenggara mengemuka setelah angka penjualan Hyundai di Cina menurun. Dalam acara Consumer Electronic Show di Las Vegas, Amerika Serikat, Chung Eui-sun mengatakan penjualan di Cina tahun lalu hanya 900 ribu unit, jauh di bawah produksi yang mencapai 1,65 juta unit.

Tahun ini, angka penjualan di Negeri Tirai Bambu ada kemungkinan stagnan. Padahal Cina adalah pasar utama sekaligus salah satu basis produksi Hyundai. Namun tren yang berbeda terjadi di Asia Tenggara. Di kawasan ini, rasio kepemilikan kendaraan masih jauh di bawah negaranegara maju dan memiliki potensi besar untuk bertumbuh. Hingga saat ini, Hyundai pun belum memiliki pabrik di Asia Tenggara. Perusahaan itu hanya mempunyai fasilitas perakitan di Indonesia dan Vietnam. Fasilitas ini merakit kendaraan komersial dan mobil penumpang yang diimpor dari Korea secara terurai atau completely knockdown. Kepada Tempo, kemarin, Wakil Presiden Komisaris PT Hyundai Motor Indonesia, Jongkie Sugiarto, mengaku belum bisa memberikan informasi ihwal kelanjutan rencana investasi ini. “Hyundai Motor Company nanti yang akan memberikan keterangan,” kata dia. “Mereka yang punya teknologi, keuangan yang sangat kuat, dan pengalaman yang banyak,” ujar Jongkie. Dia menilai HMC memiliki peluang yang cukup besar untuk menjajal bisnis di Indonesia. “Pasar Indonesia masih sangat potensial, mengingat sekarang hanya 87 mobil per 1.000 orang,” katanya. Hyundai Motor Indonesia saat ini memiliki pabrik perakitan di Bekasi Barat dengan kapasitas produksi 10 ribu unit per tahun. Mobil-mobil yang dipasarkan di Indonesia, antara lain sedan serta hatchback Avega dan Grand Avega, sport utility vehicle Tucson dan Santa Fe, hingga multipurpose vehicle H-1