Desain ergonomi tak sempurna

Fitness tracker harus digunakan layaknya jam tangan untuk dapat memonitor aktivitas tidur Anda. Untuk menghasilkan kenyamanan bagi penggunanya, keduanya dibuat dengan desain yang mungil dan tipis. Jawbone terasa lebih fleksibel karena memiliki lebih banyak ruang ketika digunakan, lebih mudah untuk digerakkan, sementara FuelBand tak terlalu fleksibel, karena bahan plastik kaku yang digunakannya hanya bisa disetel menggunakan sambungan yang disediakan (8 dan 16 mm).

Meski desainnya kurang fleksibel, namun FuelBand lebih mudah digunakan karena bentuknya melingkar sesuai dengan pergelang an tangan. Sedangkan desain menyudut dan terbuka pada Jawbone UP mengurangi kenyamanannya. Contohnya, wearable ini bisa saja tersangkut di baju atau bergesekan dengan meja saat kita sedang menulis. Namun hal yang paling tidak ergonomis pada Jawbone UP adalah bagian penutup jack plug.

Plastik kecil ini sangat mudah hilang. Jelas, banyak pengguna sering mengalami hal ini karena Jawbone menyediakan dan menjual satu set penutupnya secara terpisah seharga 11 dollar AS. Kekurangan pada desain ini bisa diatasi dengan menggunakan tali kecil atau semacam baut. Model terbaru Jawbone, yakni UP24 (seharga 167 dollar AS) —sudah tersedia di pasaran— sudah menggunakan koneksi Bluetooth sehingga tak lagi menggunakan jack plug dan penutupnya. Bahkan, FuelBand juga tidak memiliki desain dengan ergonomi yang maksimal.

Desain eksklusif pada bagian USB terasa membingungkan karena konektornya bahkan bisa digunakan secara terbalik. Ini sangat mengganggu ketika Anda salah mencolokkannya dan baterainya tidak terisi ketika hendak digunakan. Bagaimana pun, ketahanan baterai dari kedua wearable ini memuaskan. Anda hanya perlu mengisinya seminggu sekali dengan intensitas penggunaan setiap hari.