Berlatih Menjaga Adik Bagian 2

¦ Ingatkan setiap kali meminta menjaga. Selalu beri beberapa arahan penting padanya. Misal, ia dan si adik hanya boleh bermain di halaman, tidak boleh keluar pagar, tidak bermain di pinggir kolam renang (bila ada fasilitas kolan renang di rumah). Minta si kakak melepas gadget-nya untuk sementara agar ia lebih fokus mengawasi adiknya. Minta juga ia untuk segera memberi tahu saat ada hal berbahaya yang dilakukan si adik.

TETAP HARUS DIPANTAU

Meskipun, sudah dibekali instruksi yang jelas, si kakak tetap perlu dipantau. Namanya anak-anak, ia bisa saja alpa. Karena terlalu asyik menyusun lego, umpamanya, si kakak jadi tidak memerhatikan si adik yang berjalan keluar pagar. Karena itulah pengawasan dari orang dewasa tetap diperlukan. BIla ada keperluan mendesak, Mama Papa bisa bisa meminta kerabat untuk memantau si kakak dan adiknya. Ada beberapa alasan lain mengapa si kakak tidak bisa dibiarkan menjaga adiknya sendirian di rumah:

¦ Belum mampu memberikan pertolongan secepatnya. Aktivitas adik yang masih sangat aktif; lari sana-sini, lompat-lompat, naik turun tangga, dan sebagainya, rentan mengalami kecelakaan. Pada saat terjadi kecelakaan, dikhawatirkan si kakak belum bisa memberikan pertolongan. Ia justru panik, bingung, bahkan akan ikut-ikutan menangis.

¦ Belum mengenal bahaya. Terutama bahaya yang terkait dengan orangorang yang berniat jahat; pencuri, penipu, penculik, dan lainnya. Sebelum melakukan kejahatan, biasanya mereka sudah melakukan pengamatan. Ketika tahu hanya ada anak-anak di rumah, aksi pun dilakukan. Kepolosan anak-anak akan membuatnya mudah ditipu.

Arahan yang kita berikan, seperti jangan mengizinkan orang asing masuk ke dalam rumah, sering tak efektif karena penjahat jauh lebih lihai dibandingkan anak. Terutama bila anak dibujuk rayu dengan benda yang disukai atau tutur kata yang lembut dan manis

¦ Masih sering lepas kontrol. Karena keasyikan, anak lupa bahwa aktivitas tertentu dilarang oleh orangtua. Misalnya, menyalakan api di dapur, bermain di pinggir kolam, dan lainnya. Apalagi saat ia mengajak adiknya untuk melakukan bersama-sama, padahal kemampuan motorik si adik masih rendah. Ini tentu akan berbahaya. Jadi, si kakak perlu berlatih menjaga adiknya, namun tetap di bawah pengawasan orang dewasa.